koneksian.id, Jakarta – Kabar baik datang dari gerbang utama Indonesia. Setelah sekian lama berkutat dengan stigma “bandara besar tapi pelayanan standar”, Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) akhirnya resmi menyematkan lencana baru di dadanya: Certified 4-Star Airport dari Skytrax.
Tidak hanya itu, dalam daftar World’s Top 100 Airports 2024/2025, posisi Soetta melesat naik ke peringkat 20-an, meninggalkan banyak bandara besar lain di kawasan.
Bagi kita penumpang setia yang hafal betul liku-liku Cengkareng—mulai dari megahnya Terminal 3 hingga nostalgianya Terminal 1—kenaikan status ini memancing pertanyaan: Apa yang sebenarnya berubah hingga Skytrax luluh memberikan bintang keempat?
Mari kita bedah rapor audit terbarunya secara objektif.
Terminal 3: Lokomotif Perubahan Bandara Soetta
Harus diakui, Terminal 3 adalah pahlawan utama di balik kenaikan peringkat ini.
Dalam audit Skytrax, Terminal 3 dinilai berhasil menyajikan standar fasilitas internasional yang kompetitif. Area check-in yang luas, Automatic Baggage Handling System (BHS) yang makin lancar, hingga kehadiran lounge kelas dunia menjadi poin plus.
Skytrax menyoroti perbaikan signifikan pada “Shopping & Dining Experience”. Dulu, pilihan makan di bandara terbatas dan mahal. Sekarang? Terminal 3 sudah seperti mal gaya hidup. Anda bisa menemukan segalanya, dari kopi kekinian hingga butik mewah. Variasi inilah yang mendongkrak skor kepuasan penumpang global.
Digitalisasi yang Tidak Lagi “Gagap”
Faktor “Wow” lainnya adalah transformasi digital. Aplikasi Travelin milik Angkasa Pura II (kini InJourney Airports) dan integrasi sistem biometrik (Autogate Imigrasi) dinilai sangat membantu mempercepat arus penumpang (passenger flow).
Antrean manual yang dulu mengular panjang kini terurai berkat teknologi. Bagi auditor Skytrax, efisiensi waktu adalah mata uang termahal di sebuah bandara. Soetta berhasil membuktikan bahwa proses check-in hingga boarding kini jauh lebih mulus (seamless).
Namun, Kenapa Belum Bintang 5?
Meski sudah Bintang 4, kita harus jujur: Soetta masih satu strip di bawah “Raja Asia” seperti Changi (Singapura) atau Haneda (Jepang) yang berlangganan Bintang 5.
Apa kurangnya? Skytrax masih memberikan catatan pada “Consistency” (Konsistensi).
- Kesenjangan Terminal: Terminal 3 memang sudah Bintang 4, tapi Terminal 1 dan 2 masih dalam proses revitalisasi (facelift). Pengalaman penumpang di terminal lama masih terasa “jomplang” dibanding terminal baru, terutama soal kenyamanan ruang tunggu dan toilet.
- Detail Kebersihan: Standar Bintang 5 menuntut kebersihan yang obsesif. Di Soetta, kita kadang masih menemukan tisu berserakan di jam sibuk atau karpet yang bernoda. Detail kecil (attention to detail) inilah yang membedakan bandara “Bagus” (Bintang 4) dengan bandara “Sempurna” (Bintang 5).
- Konektivitas Antar-Terminal: Skytrain (Kalayang) sudah beroperasi kembali, namun frekuensi dan keandalannya masih perlu ditingkatkan agar setara dengan MRT bandara kelas dunia. Penumpang transit butuh kepastian waktu hitungan detik, bukan “kira-kira”.
Koneksian Insight
Pencapaian Bintang 4 ini adalah bukti kerja keras ribuan staf bandara, dari cleaning service hingga direksi. Ini adalah sinyal positif bagi iklim investasi dan pariwisata kita.
Namun, pekerjaan rumah belum selesai.
Bagi pengelola (InJourney Airports), Bintang 4 adalah “Jembatan Emas”. Tantangan berikutnya jauh lebih berat: Mempertahankannya. Jangan sampai euforia sesaat membuat standar layanan kendor kembali.
Kita sebagai penumpang juga punya peran. Fasilitas sudah naik kelas, perilaku kita juga harus naik kelas. Buang sampah pada tempatnya, antre dengan tertib, dan jaga fasilitas umum.
Selamat untuk Soekarno-Hatta! Bintang 5 sudah di depan mata, mari kita kejar bersama.
Sumber Data:
Skytrax Airport Ratings & World Airport Awards Data
(Ref: Peringkat Soetta naik ke Top 25 World Airports & Status 4-Star Certified)







