Koneksian.id, Jakarta – Tepat hari ini, 15 Januari, kita memperingati momen ketika aspal Jakarta mulai “dibelah” secara resmi 22 tahun lalu. Saat itu, ibu kota sedang gempar-gemparnya. Ide Gubernur Sutiyoso ramai dibahas bahkan jadi polemik. Bagaimana tidak? Jalanan Jakarta yang sudah macet parah malah “dicuri” satu lajurnya untuk jalur khusus bus. Ide itu dianggap sejumlah kalangan bisa mempersempit jalan dan malah memperparah kemacetan Jakarta.
Kritik datang dari Tjuk Sudono, anggota komisi D, DPRD Jakarta periode (1999-2004). Tjuk menilai Transjakarta adalah proyek mahal yang belum tentu efektif mengatasi kemacetan Jakara. Menurut Tjuk, biaya pembangunan Transjakarta yang mencapai Rp 86,25 miliar terlalu mahal. Ia khawatir anggaran sebesar itu rawan dikorupsi. Ia juga menilai Transjakarta bisa berdampak secara sosial yang bisa menutup rezeki sopir angkutan umum lainnya.
Awal Mula yang Penuh Drama
Lahirnya Koridor 1 (Blok M – Kota) bukan tanpa hambatan. Banyak yang pesimis, mengira proyek ini bakal mangkrak atau malah bikin macet makin menggila. Namun, Bang Yos (sapaan akrab Sutiyoso) tetap bergeming. Ia terinspirasi dari sistem Bus Rapid Transit (BRT) di Bogota, Kolombia, yang sukses memindahkan warga dari mobil pribadi ke angkutan umum.
Masih ingat bus pertama kita? Bus berwarna jingga dengan mesin Hino yang suaranya cukup nyaring itu jadi primadona baru. Tiketnya pun sangat terjangkau, hanya Rp2.000 (dan Rp3.500 setelah jam 07.00 pagi saat itu).
Lebih dari Sekadar Bus
Transjakarta bukan cuma soal memindahkan badan dari titik A ke titik B. Ia membawa budaya baik bagi warga Jakarta, seperti budaya antre, yang memaksa penumpang untuk tertib di dalam halte. Di dalam busway, direktur berdasi dan pegawai toko duduk berdampingan tanpa sekat.
Jadi Koridor Bus Terpanjang di Dunia

Kini, Transjakarta bukan lagi sekadar bus jingga di Koridor 1. Ia telah menjelma menjadi sistem BRT dengan jalur lintasan terpanjang di dunia. Bahkan Transjakarta sekarang sudah terhubung dengan MRT, LRT, dan KRL. Transjakarta juga mengubah sistem tiketnya dari sistem tiket kertas ke kartu elektronik, hingga armada bus listrik yang lebih senyap dan ramah lingkungan. Saat ini jangkauannya pun lebih luas, bukan cuma di jalan protokol, tapi sudah masuk ke perumahan lewat Mikrotrans (angkot JakLingko). Transjakarta ibarat saksi bisu bagaimana warga Jakarta belajar untuk berbagi ruang di tengah ego kendaraan pribadi yang tinggi.
Meski masih ada keluhan soal waktu tunggu (headway) yang kadang bikin elus dada atau halte yang penuh sesak di jam pulang kerja, kita harus mengakui: Jakarta tanpa Transjakarta hari ini mungkin sudah lumpuh total. Selamat ulang tahun yang ke-22 untuk sistem transportasi kebanggaan warga Jakarta. Tetap melaju di jalurnya sendiri, tanpa perlu ikut arus kemacetan yang melelahkan. (Upi)







