Senin, September 28, 2026
Google search engine
BerandaMaritim & UdaraHercules Pelabuhan: Kisah Porter Panggul yang Kian Terhimpit Zaman dan Koper Roda

Hercules Pelabuhan: Kisah Porter Panggul yang Kian Terhimpit Zaman dan Koper Roda

koneksian.id – Jakarta, Di Pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Perak, atau Soekarno-Hatta (Makassar), Anda pasti pernah melihat mereka.

Pria-pria berkulit legam terbakar matahari, mengenakan seragam kemeja bernomor punggung yang lusuh. Tatapan mereka tajam menyapu kerumunan penumpang yang turun dari kapal, mencari satu hal: Beban.

Mereka adalah Porter atau buruh panggul. Orang-orang yang dianugerahi kekuatan fisik di atas rata-rata manusia biasa.

Saya menyebutnya “Hercules Pelabuhan”. Bagaimana tidak? Mereka sanggup memanggul kulkas dua pintu, koli berisi hasil bumi seberat 50 kg, atau tumpukan kardus mi instan setinggi menara di punggung mereka, sambil meniti tangga kapal (gangway) yang curam dan licin.

Tanpa alat bantu hidrolik, tanpa exoskeleton. Hanya bermodal otot leher, punggung baja, dan selembar kain kecil pelindung bahu.

Musuh Itu Bernama “Trolley Bag”

Dulu, di era 90-an hingga awal 2000-an, porter adalah raja. Orang bepergian membawa kardus rokok yang diikat tali rafia atau tas jinjing kain raksasa yang beratnya minta ampun. Tidak ada cara lain selain menyewa jasa porter.

Namun, zaman berubah. Musuh terbesar porter bukanlah sesama porter, melainkan inovasi teknologi sederhana: Roda.

Ilustrasi penumpang mendorong Trolley bag di pelabuhan [ilustrasi/gemini]

Sejak koper beroda (trolley bag) menjadi murah dan massal, serta tas travel kini dilengkapi roda putar 360 derajat, profesi porter mulai kehilangan pasarnya. Penumpang kini bisa mendorong kopernya sendiri dengan satu jari. Lantai pelabuhan yang dulu kasar dan becek, kini sudah dikeramik licin atau beton halus, makin memanjakan pengguna koper roda.

“Sekarang susah, Mas. Penumpang cuma panggil kita kalau bawaannya benar-benar banyak. Kalau cuma satu koper, mereka geret sendiri,” keluh seorang porter senior di Pelabuhan Tanjung Emas.

Seni Tawar-Menawar Nasib

Tidak ada tarif pasti di dunia panggul-memanggul (kecuali di Stasiun Kereta Api yang kini mulai ditertibkan). Di pelabuhan, tarif adalah hasil adu negosiasi.

“Lima puluh ribu ya, Pak, sampai parkiran,” tawar si Porter. “Mahal amat, tiga puluh aja lah,” balas penumpang.

Bagi kita, selisih dua puluh ribu mungkin cuma seharga satu es kopi susu. Tapi bagi mereka, itu adalah selisih antara makan nasi lauk ayam atau cuma lauk tempe hari ini.

Momen “Panen Raya” mereka hanya terjadi setahun sekali: Musim Mudik Lebaran. Saat itulah, ribuan perantau pulang membawa oleh-oleh segunung yang tak mungkin diangkat sendiri. Di momen itulah, senyum porter merekah lebar. Punggung mereka mungkin remuk redam, tapi kantong mereka terisi untuk baju lebaran anak di kampung.

Solidaritas Nomor Punggung

Ada sisi unik dari kehidupan porter: Sistem Antrean dan Solidaritas.

Mereka tidak berebut secara barbar (kebanyakan). Di banyak pelabuhan, mereka punya paguyuban. Rompi bernomor itu adalah identitas resmi. Jika ada barang penumpang hilang atau rusak, nomor itulah jaminannya.

Mereka juga punya kode etik tak tertulis. Jika satu porter sudah “menandai” atau menyapa penumpang duluan, porter lain pantang menyerobot. Di tengah kerasnya persaingan hidup, etika jalanan ini masih mereka jungjung tinggi.

Koneksian Insight

Mungkin suatu saat nanti, profesi ini akan punah, digantikan oleh robot conveyor belt atau koper pintar yang bisa jalan sendiri.

Namun, selagi mereka masih ada, mari kita lihat mereka dengan kacamata berbeda:

  1. Berbagilah Rezeki: Jika Anda membawa barang yang lumayan berat (meski koper roda sekalipun), tidak ada salahnya sesekali memakai jasa mereka. Anggaplah itu sedekah yang saling menguntungkan. Anda tidak capek, mereka dapat nafkah.
  2. Manusiakan Mereka: Jangan menawar terlalu sadis. Mengangkat beban 30-40 kg menuruni tangga kapal itu risikonya cedera tulang belakang permanen. Hargai keringat mereka dengan tarif yang pantas.
  3. Senyum dan Sapa: Terkadang, penumpang memandang porter dengan curiga atau ketus karena takut dipaksa. Tolaklah dengan halus dan sopan jika memang tidak butuh. “Maaf Pak, bawaan saya ringan. Terima kasih ya.” Itu jauh lebih memanusiakan daripada membuang muka.

Di balik punggung-punggung yang membungkuk menahan beban itu, ada tulang punggung keluarga yang sedang berjuang tegak.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

ARTIKEL TERPOPULER

Verified by MonsterInsights