Senin, September 28, 2026
Google search engine
BerandaInspirasiIbu Kapten di Anjungan Kapal: Siapa Bilang Perempuan "Pamali" Masuk Kapal?

Ibu Kapten di Anjungan Kapal: Siapa Bilang Perempuan “Pamali” Masuk Kapal?

Koneksian.id – Jakarta, Ada satu mitos pelaut kuno yang bertahan berabad-abad: “Perempuan membawa sial jika naik ke kapal.”

Dulu, dunia maritim adalah dunia yang hiper-maskulin. Keras, kasar, dan penuh otot. Perempuan dianggap makhluk halus yang tidak cocok dengan ganasnya ombak. Kalaupun ada perempuan di kapal, posisinya biasanya di dapur atau bagian administrasi.

Tapi zaman telah berubah. Mitos itu kini tenggelam ke dasar laut.

Hari ini, jika Anda naik kapal Pelni atau kapal kargo lintas pulau, cobalah tengok ke atas, ke ruang kemudi (Bridge/Anjungan). Jangan kaget jika Anda melihat sosok berkerudung atau berambut kuncir kuda sedang memegang teropong dan memberi perintah tegas kepada juru mudi.

Dialah Sang Nahkoda. Dialah “Ibu Kapten”.

Ombak Tidak Bertanya Jenis Kelaminmu

Menjadi pelaut perempuan di Indonesia bukan perkara mudah. Tantangan pertamanya bukan laut, tapi Stigma.

Masuk ke akademi pelayaran (seperti STIP atau PIP), taruni (kadet perempuan) harus menjalani pendidikan fisik dan mental yang sama kerasnya dengan taruna laki-laki. Tidak ada diskon. Push-up sama, lari sama, berenang di laut lepas pun sama.

Filosofinya sederhana: “Ombak tidak pernah bertanya apa jenis kelaminmu.” Saat badai setinggi 4 meter menghantam kapal di Laut Jawa, laut tidak akan menjadi lebih lembut hanya karena nahkodanya perempuan.

Justru, pelaut perempuan seringkali harus bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan diri. Mereka harus mematahkan keraguan para ABK (Anak Buah Kapal) senior yang mungkin merasa gengsi diperintah oleh perempuan.

Sentuhan “Emak-Emak” di Tengah Laut

Apa bedanya kapal yang dipimpin laki-laki dengan perempuan? Banyak pelaut mengakui, kapal yang dipimpin oleh “Ibu Kapten” biasanya Lebih Rapi dan Disiplin.

Perempuan membawa keunggulan alami: Ketelitian (Attention to Detail). Dalam navigasi, kesalahan satu derajat saja bisa fatal. Dalam perawatan mesin dan keselamatan (safety), kejelian mata perempuan seringkali menyelamatkan kapal dari masalah kecil yang luput dari mata laki-laki.

Selain itu, gaya kepemimpinannya cenderung lebih humanis. Pendekatan keibuan (maternal) membuat suasana kerja di kapal lebih adem, tapi tetap tegas. ABK yang biasanya urakan bisa menjadi segan dan penurut, bukan karena takut dimarahi, tapi karena merasa diayomi.

Jangan remehkan “The Power of Emak-Emak” saat memarkir kapal raksasa di dermaga sempit. Presisinya boleh diadu!

Dilema Terberat: Panggilan Hati vs Panggilan Tugas

Namun, di balik gagahnya seragam putih dengan balok emas di pundak, ada pengorbanan yang tak terlihat.

Bagi Kapten perempuan yang sudah berkeluarga, musuh terberat bukanlah badai, melainkan Rindu. Meninggalkan anak dan suami selama berbulan-bulan (bahkan tahunan) adalah ujian batin yang luar biasa. Ada momen ulang tahun anak yang terlewat, ada momen sakit yang tak bisa didampingi, dan ada tangisan di ujung telepon satelit saat sinyal putus-nyambung di tengah samudra.

Mereka adalah “Wonder Woman” nyata. Di laut mereka adalah komandan tertinggi yang haram terlihat lemah. Di darat, mereka adalah ibu yang menebus waktu yang hilang dengan kasih sayang penuh.

Koneksian Insight

Indonesia sebagai poros maritim dunia butuh lebih banyak srikandi-srikandi laut ini.

  1. Inspirasi Gen-Z: Bagi adik-adik perempuan yang sedang bingung cari jurusan kuliah, jangan takut melirik Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran. Karier ini menjanjikan, gajinya besar (standar dolar jika di kapal asing), dan Anda bisa keliling dunia gratis.
  2. Hapus Mitos: “Pamali” itu cuma ada di pikiran orang yang takut maju. Buktinya, Kapten Entin Kartini (salah satu nahkoda perempuan pertama Indonesia) dan penerusnya sukses membawa kapal dengan selamat.
  3. Respect: Jika suatu saat Anda naik kapal dan mendengar pengumuman dari suara perempuan: “Selamat siang, ini Kapten Anda berbicara…”, tersenyumlah. Anda sedang berada di tangan yang teliti, tangguh, dan penuh kasih.

Selamat berlayar, Ibu Kapten! Doa kami menyertai setiap mil laut yang kau tempuh. Jalesveva Jayamahe!

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

ARTIKEL TERPOPULER

Verified by MonsterInsights