Koneksian.id – Jakarta, Bagi pengemudi Lintas Sumatera, Pelabuhan Merak atau Bakauheni biasanya hanya dianggap sebagai checkpoint. Tempat istirahat sebentar, luruskan kaki, lalu gas pol lagi mengejar waktu tempuh.
Tapi coba sesekali ubah perspektif Anda. Matikan mode balapan, aktifkan mode liburan.
Ternyata, perjalanan membelah Selat Sunda memiliki pesona tersembunyi yang sering kita lewatkan karena terlalu sibuk melihat jam. Ini adalah definisi nyata dari “Slow Travel”—seni menikmati perjalanan itu sendiri, bukan hanya destinasinya.
Transformasi “Mall Terapung”
Dulu, naik kapal feri identik dengan berebut kursi plastik keras, aroma asap rokok yang menyengat, dan pedagang asongan yang tak henti berseliweran.

Lupakan bayangan itu jika Anda memilih masuk melalui Dermaga Eksekutif.
Di Merak, Anda disambut Terminal Sosoro. Di Bakauheni, ada Terminal Anjungan Agung. Keduanya lebih mirip bandara atau mal daripada pelabuhan. Ada eskalator, tenant kopi bermerek (ya, ada Starbucks), hingga ruang tunggu ber-AC yang wangi.
Masuk ke kapal ekspresnya pun lewat garbarata (jembatan belalai) seperti naik pesawat. Di dalam kapal, interiornya mewah dengan sofa empuk, live music akustik yang sopan, dan kantin yang bersih. Rasanya seperti sedang di lobi hotel bintang tiga yang terapung.
Romantisme Dek Terbuka
Namun, sensasi sesungguhnya ada di luar ruangan.
Bagi para pemburu konten atau penikmat senja, dek paling atas (rooftop deck) adalah spot VIP.
Cobalah menyeberang di jam “emas”, sekitar pukul 17.00 – 18.00 WIB.
Saat kapal mulai lepas sandar, Anda akan disuguhi atraksi alam yang magis. Matahari perlahan turun ke garis cakrawala laut, mengubah langit menjadi kanvas gradasi oranye dan ungu.
Jika cuaca cerah, siluet Gunung Anak Krakatau yang legendaris akan terlihat samar di kejauhan, berdiri gagah di tengah lautan.
Angin laut yang kencang, suara deburan ombak memecah lambung kapal, dan segelas kopi panas (atau Pop Mie panas, pasangan abadi anak kapal) adalah kombinasi healing yang sulit dicari tandingannya di jalan tol beton.
Kelas Ekonomi Punya Cerita
Bagaimana dengan kapal reguler (Ekonomi)? Jangan salah, mereka punya romantisnya sendiri.
Jika kapal eksekutif menawarkan kemewahan, kapal ekonomi menawarkan Kearifan Lokal.
Di sinilah Anda merasakan denyut nadi kehidupan yang asli. Obrolan dengan supir truk yang sedang menyantap nasi bungkus, suara dangdut dari speaker kapal, hingga sensasi “lesehan” di dek yang santai.
Kapal reguler biasanya memiliki waktu tempuh lebih lama (2-3 jam). Justru itu kelebihannya: Anda punya waktu lebih lama untuk tidur, sholat dengan tenang, atau sekadar melamun menatap laut tanpa dikejar durasi.
Koneksian Insight
Agar penyeberangan Anda menjadi momen wisata yang memorable, simak tips ini:
- Kejar Golden Hour: Ingin foto sunset terbaik? Pesan tiket kapal Eksekutif untuk keberangkatan jam 17.00 atau 18.00. Cahayanya sedang bagus-bagusnya.
- Bawa Jaket: Angin Selat Sunda itu tidak main-main, apalagi di malam hari. Masuk angin bisa merusak sisa perjalanan Anda.
- Siapkan Antimo: Bagi yang tidak biasa, guncangan ombak di tengah selat (terutama pertemuan arus) bisa bikin mual. Minum obat anti-mabuk 30 menit sebelum naik kapal, lalu tidurlah.
- Spot Foto: Di kapal-kapal baru milik ASDP (seperti KMP Portlink atau KMP Legundi), ada spot foto instagramable di buritan kapal. Jangan malu untuk explore setiap lantai kapal.
Jadi, besok kalau menyeberang lagi, jangan cuma diam di dalam mobil. Keluar, naik ke dek, hirup udara laut, dan nikmati perjalanannya.







