Rabu, September 23, 2026
Google search engine
BerandaInspirasiKenapa Tiket Pesawat Masih Mahal? Bedah Anatomi Harga yang Bikin Dompet Menjerit

Kenapa Tiket Pesawat Masih Mahal? Bedah Anatomi Harga yang Bikin Dompet Menjerit

koneksian.id, Jakarta – Pernahkah Anda iseng mengecek harga tiket pesawat Jakarta-Bali atau Jakarta-Medan untuk akhir pekan ini, lalu buru-buru menutup aplikasinya karena syok melihat harganya?

“Perasaan dulu sejuta sudah dapat pulang-pergi, kok sekarang sekali jalan saja dua juta?”

Anda tidak sendirian. Keluhan soal tiket pesawat mahal sudah menjadi lagu wajib nasional pasca-pandemi. Netizen sering menuduh maskapai aji mumpung atau kartel harga. Padahal, kalau kita tanya CEO maskapai, mereka juga pusing tujuh keliling karena margin keuntungan mereka tipis setipis tisu.

Mari kita bedah anatomi harga tiket pesawat. Ke mana sebenarnya uang jutaan rupiah yang Anda bayarkan itu mengalir?

Terdakwa 1: Avtur, Si Peminum Haus

Komponen biaya terbesar dalam penerbangan adalah bahan bakar alias Avtur. Porsinya bisa mencapai 35% – 40% dari total biaya operasional maskapai.

Masalahnya, harga Avtur itu fluktuatif mengikuti harga minyak dunia. Di Indonesia, distribusi Avtur juga menghadapi tantangan geografis yang bikin harganya di bandara terpencil jauh lebih mahal dibanding di Soekarno-Hatta.

Belum lagi soal pajak. Avtur kita dikenakan PPN. Jadi, maskapai beli bensin sudah kena pajak, lalu jual tiket ke Anda kena pajak lagi. Pajak berganda inilah yang membuat struktur biaya makin bengkak.

Terdakwa 2: Kurs Dollar yang “Nakal”

Ini rahasia umum yang menyedihkan: Maskapai Indonesia itu pendapatannya Rupiah, tapi pengeluarannya Dollar AS.

Ilutrasi dollar [gemini]

Sewa pesawat (leasing)? Bayar pakai Dollar.

Beli suku cadang (spare parts)? Impor pakai Dollar.

Biaya asuransi? Dollar lagi.

Perawatan mesin (maintenance)? Seringkali harus dikirim ke luar negeri, bayar pakai Dollar.

Jadi, setiap kali nilai tukar Rupiah melemah sedikit saja terhadap Dollar, beban utang maskapai melonjak drastis. Untuk menutupi selisih kurs ini, mau tidak mau harga tiket disesuaikan.

Terdakwa 3: Pajak dan Pungutan “Siluman”

Coba perhatikan detail rincian harga tiket Anda. Angka yang Anda bayar itu bukan cuma ongkos terbang (Basic Fare).

Di situ ada PPN 11% (Pajak Pertambahan Nilai) yang dipungut negara.

Ada PJP2U (Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara) alias Airport Tax. Dulu kita bayar terpisah di loket bandara, sekarang sudah digabung ke tiket. Semakin bagus bandaranya (seperti Terminal 3 Soetta), semakin mahal Airport Tax-nya.

Ada Iuran Wajib Jasa Raharja (IWJR) untuk asuransi.

Dan kadang ada Fuel Surcharge (tuslah bahan bakar) yang diizinkan pemerintah saat harga minyak sedang gila-gilanya.

Jadi, dari tiket seharga Rp 1,5 juta, mungkin jatah murni maskapainya cuma Rp 1 juta. Sisanya? Setoran ke negara dan pengelola bandara.

Hukum Rimba: Supply vs Demand

Faktor terakhir adalah hukum ekonomi dasar. Pasca-pandemi, jumlah pesawat yang terbang di langit Indonesia menyusut drastis.

Banyak pesawat yang dikembalikan ke lessor (perusahaan penyewa) saat Covid karena maskapai tidak sanggup bayar sewa. Ada juga yang “mangkrak” karena butuh biaya besar untuk perawatan (re-activate) setelah lama diam.

Sementara itu, minat orang untuk jalan-jalan (revenge travel) meledak.

Supply (Pesawat) Sedikit + Demand (Penumpang) Banyak = Harga Naik.

Maskapai tidak perlu banting harga pun kursi tetap penuh. Jadi, era tiket promo “Rp 0” atau “Rp 100 ribu” mungkin akan sulit kita temui lagi dalam waktu dekat.

Koneksian Insight

Jadi, apakah kita harus pasrah dompet jebol? Ada beberapa strategi:

  1. Pesan Jauh Hari: Algoritma maskapai itu kejam. Semakin dekat hari H, semakin mahal (Subclass tiket murah akan habis duluan). Pesanlah minimal 3-4 minggu sebelum berangkat.
  2. Fleksibilitas Waktu: Terbang di hari Selasa atau Rabu (tengah pekan) biasanya jauh lebih murah daripada Jumat atau Minggu. Terbang subuh atau larut malam juga seringkali lebih miring harganya.
  3. Harapan pada Regulator: Kita perlu mendorong pemerintah untuk meninjau ulang skema pajak ganda pada industri penerbangan dan menurunkan bea masuk suku cadang. Jika beban maskapai diringankan, harga tiket otomatis akan lebih bersahabat bagi rakyat.

Mahalnya tiket bukan karena maskapai serakah, tapi karena ekosistem penerbangan kita memang “biaya tinggi”. Sampai ekosistem ini dibenahi, berburu promo adalah satu-satunya jalan ninja kita.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

ARTIKEL TERPOPULER

Verified by MonsterInsights